KONSENTRASI
Senin, 13-Juli-2020 11:00:55 dilihat (135)

                                             

Syamsul seorang anak yang setiap hari rajin ke masjid. Namun, suatu ketika  ia berkata kepada ayahnya, “Ayah, mulai hari ini aku tidak mau ke masjid lagi.”

Lho mengapa?” sahut sang ayah keheranan.

Karena di masjid aku menemukan orang-orang yang kelihatannya agamis tapi sebenarnya tidak, ada yang sibuk dengan Handphone, sementara yang lain membicarakan asyik keburukan orang lain.”

Sang ayah pun berpikir sejenak lalu berkata, “Baiklah kalau begitu, tapi ada satu syarat yang harus kamu lakukan. Setelah itu baru kamu boleh memutuskan apapun ! ”

Syarat apa itu, Yah?” 

Ambillah air satu gelas penuh, lalu bawa keliling masjid. Ingat, jangan sampai ada setetes air pun yang tumpah.”

Sang anak pun menyanggupi. Ia membawa segelas air berkeliling masjid dengan sangat hati-hati. Tidak ada setetes air pun yang jatuh karenanya. Sesampai di rumah sang ayah bertanya,

Apakah  kamu sudah membawa air itu keliling masjid?” Anaknya menjawab, “Sudah.”

Apakah ada yang tumpah?”

Tidak,” jawab anak itu.

Apakah di masjid tadi ada orang yang sibuk dengan Handphone?” Tanya si ayah lagi.

Duh, aku tidak tahu, yah !. Pandanganku hanya tertuju pada gelas ini saja, Ayah,” jawab anaknya.

Kembali si ayah bertanya, “Apakah di masjid tadi ada orang-orang  yang membicarakan kejelekan orang lain? Wah, aku juga tidak dengar. Konsentrasiku hanya tertuju untuk menjaga air dalam gelas ini saja.”

Sang ayah pun tersenyum lalu berkata, “Begitulah hidup anakku, jika kamu konsentrasi pada tujuan hidupmu, kamu tidak akan punya waktu untuk menilai kejelekan orang lain. Jangan sampai kesibukanmu menilai kualitas orang lain membuatmu lupa akan kualitas dirimu sendiri.”

***

Dibalik sebuah cerita tersimpan pembelajaran bagi semua orang. Begitu pula pada kisah di atas. Cerita tersebut sangat relevan dalam konteks sekarang terutama dalam rangka membangun manusia Indonesia yang unggul dan berbudi pekerti. Pembentukan peribadi yang unggul dapat dimulai dari rumah. Sedang sekolah atau pondok pensantren hanyalah sebatas lembaga yang bertugas menambah atau menyempurnakan pendidikan di rumah. Untuk itu, orang tua harus tetap berkomunikasi kepada sekolah atau pondok manakala melihat tanda-tanda yang kurang beres.

Salah satu kendala menanamkan kepribadian unggul dan berkarkter pada diri anak baik di rumah atau di sekolah adalah lemahnya konsentrasi belajar. Konsentrasi belajar terjadi karena memudarnya focus belajar. Hal ini disebabkan adanya pencabangan pemikiran yakni karena ingin bermain, ada hasrat lain yang tersembunyi, atau kendala komunikasi.

Tanda-tanda menurunnya konsentrasi belajar adalah berkurang semangat bersekolah. Bangun kesiangan, pekerjaan rumah tidak diselesaikan dan pulang sekolah selalu terlambat. Dan lain-lain. Fenomena seperti ini akan terus terjadi manakala sang anak belum bisa memetakan mana yang perlu dahulukan atau mana yang harus dinomorduakan.

Dampak terfatal dari kurangnya konsentrasi adalah kegagalan belajar. Seperti malas belajar atau berangkat sekolah, tidak naik kelas, bahkan bisa keluar sekolah. Inilah kondisi serius bagi orang tua dan sekolah untuk segera selesaikan agar anak tetap berjalan pada jalur yang benar.

Upaya persuasif bahkan represif dari orang tua atau sekolah terkadang perlu dilakukan guna membuka kesadaran agar sang anak tetap semangat bersekolah. Namun sayang, usaha tersebut sering gagal karena magnet di luar lebih kuat dari motivasi itu sendiri. Sedangkan hukuman tidak lagi menjadi sesuatu yang menakutkan, sedangkan nasihat hanya sekedar untaian kata indah yang manis di telinga.

Menyikapi hal tersebut, perlunya kesamaan sikap antara pihak sekolah dan orang tua. Salah satunya orang tua harus terbuka kepada sekolah, begitu pula sekolah harus proaktif dalam menangani masalah siswa tersebut. Keakuratan data, kesabaran dan tidak pilih kasih harus dikedepankan guna menumbuhkan keprofesionalan dalam bekerja. Begitu pula orang tua jangan lepas tangan terhadap masalah anak, apalagi sampai menjelek-jelekan guru dihadapan anaknya.

Jika demikian perlunya rumusan strategi guna menjaga konsentrasi belajar anak diantaranya kuatkan niat, komukasi sehat antara orang tua dan anak, kontrol kegiatan, konsistensi sikap orang tua, dan bangun cita-cita.

  1. Kuatkan Niat

Di dalam jiwa manusia ada sebuah kekuatan yang sangat luar biasa yakni niat. Bahwa setiap amalan benar-benar tergantung pada niat. Dan setiap orang akan mendapatkan balasan dari apa yang ia niatkan Jika seseorang ingin melakukan perbuatan jelek tapi terjadi kontradiksi dalam hati itu artinya antara niat dan perbuatan terjadi pertentangan. Maka wajar sekali setelah perbuatan tersebut dilakukan akan muncul rasa pertobatan atas prilaku tersebut.

Begitu pula orang tua ketika hendak menyekolahkan anaknya, tanamkan bahwa niatan bersekolah adalah melaksanakan perintah agama, mencari ilmu dan untuk bekal di masa datang. Di sekolah tidak ada pelajaran yang sulit, yang ada hanyalah kurangnya belajar siswa.

  1. Komunikasi yang sehat

Komunikasi merupakan aspek yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Setiap orang yang hidup dalam masyarakat, sejak bangun tidur sampai tidur lagi, secara kodrati senantiasa terlibat dalam komunikasi. Terjadinya komunikasi adalah sebagai konsekuensi hubungan sosial (social relations).

Komunikasi antarpribadi mempunyai banyak manfaat. Melalui komunikasi antarpribadi seorang individu dapat mengenal diri sendiri dan orang lain, menjalin hubungan yang lebih bermakna serta dapat mengubah nilai-nilai dan sikap hidup orang lain. dibandingkan dengan bentuk-bentuk komunikasi lainnya, komunikasi antarpribadi dinilai paling ampuh dalam hal mengubah sikap, kepercayaan, opini dan  perilaku komunikan. Alasannya karena komunikasi antarpribadi umumnya berlangsung secara tatap muka (face to face), oleh karena itu maka terjadilah kontak pribadi.

Komunikasi antarpribadi diterapkan oleh orang tua / guru untuk membuat anak didiknya merasa nyaman di rumah atau di sekolah. Bila ada sikap aneh atau perubahan mimik serta merta orang tua atau guru segera bertanya kepada anak tersebut secara pribadi. Sehingga orang tua atau guru segera mengetahui apa yang dirasakan oleh anaknya terutama yang berkaitan dengan kesulitan belajar.

  1. Kontrol Kegiatan.

Banyak anak curhat kepada kepada gurunya karena protek orang tua. Berbagai alasan disampaikan agar tetap berada di rumah setelah pulang sekolah. Kegiatan ektra juga tidak diperkenankanm dengan alasan pulangnya terlalu sore.

Pembatasan kegiatan silahkan asal tidak sampai mematikan kreativitas anak. Pada dasarnya masa belajar adalah masa pertumbuhan. Pemberian kesempatan untuk beraktivitas merupakan sarana penanaman kepercayaan orang tua kepada anak. Selain itu, juga untuk menumbuhkan pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab. Lalu agar anak tidak terlelap dalam aktivitas di luar rumah ajaklah sang anak untuk menyusun jadwal kegiatan serta memilih kegiatan yang harus diikuti. Dengan demikian bila jadwal tidak ditepati orang tua langsung kontak atau bisa menghubingi wali kelasnya.

  1. Konsistensi orang tua.

Sikap dan perilaku konsisten merupakan salah satu indikator kunci dalam diri seseorang yang memiliki integritas. Semakin tinggi sikap dan perilaku kosnsitensinya biasanya integritasnya juga semakin tinggi. Konsistensi adalah suatu keharusan ketika hendak membangun dan menanankan kedisiplinan pada anak terutama sikap orang tua.

Konsisten itu merupakan suatu kegiatan  yang dikerjakan berulang kali dan terus menerus tanpa jeda waktu hingga mnejadi sebuah kebiasaan hidup.  Pemahaman ini hendaknya dikembangkan ke ranah kegiatan yang positif dan bermanfaat bagi diri sendiri maupun bagi lingkungan keluarga..

Konsisten pikiran, sikap, bicara dan perbuatan merupakan pilihan setiap orang. Artinya, tidak otomatis setiap orang menjadi konsisten. Saat memilih sikap konsisten maka seluruh kehidupannya menjadi konsisten. 

Tidak hanya seketika, atau sekali-sekali saja, atau kadang-kadang tergantung moodnya, atau saat dibutuhkan saja. Tidak sama sekali seperti itu. Tetapi konsisten dalam jangka waktu yang sangat panjang, bahkan seumur hidupnya. Memang memelihara, merawat dan mengembangkan sikap konsisten dalam hidup sangat baik bahkan ada yang mengatakan sebagian keberhasilan sudah ada di tangan.  

Pertanyaannya apakah orang tua sudah cukup yang konsisten dalam membangun karakter anak ? Sebagai contoh, mengubah kebiasaan bangun pagi hari dari pukul 06.00 pagi menjadi pukul 04.30 pagi. Lalu kapan waktu anak belajar dan kapan pula anak harus mengaji. Bahkan ada anjuran antara pukul 18.00 – 20.00 WIB agar TV dimatikan. Sudahkah hal tersebut dilakukan.

  1. Cita – cita

Setiap anak punya impian masa depan. Adanya yang ingin jadi dokter, dosen, TNI, POLRI, pengusaha, atau seniman. Bila anaknya dua maka impiannya dua. Bila anaknya empat berarti ada empat keinginan yang harus terjaga oleh tua. Namun impian tersebut sering berubah seirama usia mereka. Perubahan terubahan hendaknya terus terpantau orang tua agar impian itu bisa menjadi alat untuk memotivasi anak.

Alangkah indanya jika alasan mempunyai impian tersebut dikomunikasikan dengan orang tua. Sehingga orang tua bisa mengambil langkah guna memberikan suntikan ekstra bila si anak sedikit mengalami kesulitan. Selain itu, orang tua juga perlu menyiapkan strategi lain manakala impian tersebut terbentur masalah yang sulit teratasi.

Orang tua tetap berperan sentral manakala menemukan ada anak yang konsentrasi belajarnya terganggu. Komunikasi orang tua dengan anak harus tetap terjaga meskipun sesibuk apapun. Tingkatkan hubungan batin dengan anaknya lewat jalinan online doa setiap malam. “ Ya Allah tempatkanlan anak ketempat yang baik karena Engkaulah sebaik-baiknya Dzat Yang Menempatkan

 

           oleh 

           Abdul Basyid, S.Pd

           Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia